Ujian Nasional dan Sistem Pendidikan Indonesia
Memang terkesan pendidikan sekarang ini adalah Ujian Nasional Oriented , kiblatnya hanya bagaimana lulus ujian nasional , itu yang ada di kepala para siswa , pendidik , sekolah dan instansi-instansi diatasnya , lulus 100% adalah mimpi yang harus di realisasikan dengan berbagai cara , bahkan terkadang menghalalkan semua cara.
Tetapi dalam Ujian Nasional terjadi penyamaan kembali tingkat kemampuan siswa , karena soal yang di buat tersentralisasi dari dinas pendidikan pusat , dan soal yang diberikan , kalau boleh dibilang relatif sulit dikerjakan dengan baik oleh adik-adik kita yang berada di daerah pelosok , yang media pembelajarannya masih kurang.
Rancangan sistem pendidikan di Indonesia jika di baca dari drafnya akan semakin berkembang ke arah lebih baik dengan dianggarkannya 20% dari APBN untuk pendidikan , dan Biaya Operasional Sekolah yang seluruhnya ataupun sebagian di tanggung oleh pemerintah , serta pencanangan pendidikan gratis untuk sekolah negeri , peningkatan kesejahteraan pengajar negeri tetapi sayangnya belum diikuti oleh peningkatan kesejahteraan pengajar kontrak ataupun honorer , tapi kita patut mengapresiasi usaha pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Pengakreditasian Sekolah yang berguna untuk penentuan grade sekolah ditinjau dari kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan , mutu materi ajar dan pendidik , kelengkapan administrasi sekolah yang biasanya dilakukan setiap 4 tahun sekali , dimana mutu sebuah sekolah akan dinilai oleh team dinas pendidikan pusat setiap 4 tahun demi peningkatan mutu pengajaran di sekolah tersebut. Dan sekolah akan diberikan predikat akreditasi yaitu A , B , Diakui ataupun Disamakan.
Sertifikasi guru pengajar adalah usaha lain dari pemerintah untuk meningkatkan kwalitas pengajar di lingkungan sekolah , pengajar diharapkan menguasai bidang ajarnya dengan baik dan mampu mengajarkan bidangnya dengan baik kepada para pelajarnya , jika semua ini telah di capai seorang pengajar layak mendapat sertifikasi sebagai seorang pengajar.
Dengan semua variable peningkatan mutu pendidikan diatas secara teori atau biasanya sering di bilang oleh para pengamat diatas kertas pendidikan Indonesia akan semakin maju dan berkembang , tetapi semua variable tersebut belum di gunakan secara maksimal , dimana setiap variable masih berdiri sendiri , belum dikolaborasikan menjadi satu kesatuan yang saling mendukung melalui sebuah program yang bertujuan untuk memaksimalkan varible-variable tersebut.
Kurikulum , Akreditasi , Sertifikasi , Ujian Nasional dan Pembiayaan dari Pemerintah , bisakah kita buat semua hal ini menjadi lebih menyatu , bukan terkesan terpisah dan berjalan sendiri-sendiri , menyatu dalam sebuah program kerja yang jelas demi mutu pendidikan nasional yang bisa di terima disemua lapisan masyarakat pelajar indonesia?
Tentu saja akreditasi sebuah sekolah dapat mencerminkan kualitas , kurikulum yang dipakai sudah dikembangkan , para pengajarnya telah tersertifikasi dan layaklah ujian nasional diterapkan di sekolah seperti ini , bagaimana dengan sekolah yang ada dipelosok , dengan media pendidikan yang kurang , ketersediaan buku pegangan ,alat peraga pendidikan apakah adil ujian nasional yang sama diterapkan di sekolah seperti itu? Mungkin saja bisa karena tidak bisa kita pungkiri terkadang kemampuan pelajar di daerah seperti itu terkadang memiliki keunggulan karena semangat dan niat belajarnya , mengingat hal itu juga bisakah ujian nasional di grade juga seperti akreditasi?
Dimana ujian nasional di beri grade A , B , Diakui dan Disamakan , dan dalam memilih grade ini yang pertama di ambil dari kemampuan siswa dan yang kedua dari kelengkapan penunjuang pendidikan di sekolah yang tercermin dari akreditasi sebuah sekolah , soal dalam grade – grade ujian nasional tersebut disesuaikan tingkat kesulitannya berdasarkan grade , jadi semakin baik kemampuan seorang siswa semakin tinggi grade yang diambilnya apalagi di tunjang dari sarana pendidikan yang baik, dan di daerah pelosok juga akan dapat kesempatan yang sama bagi siswa-siswinya yang memiliki kemampuan baik untuk mengambil grade yang paling tinggi.
Jika seorang siswa sudah sadar dengan kemampuannya yang agak terbatas walaupun bersekolah di sekolah dengan Akreditasi A , maka dia dengan suka rela mengambil grade yang sesuai dengan dia tanpa ada sebuah paksaan , sehingga keadilan dalam pendidikan bisa diwujudkan dan penghormatan kepada kemampuan siswa juga dapat terwujud. Jika setelah melaksanankan UN tersebut tidak lulus maka siswa diperkenankan untuk downgrade soal.
Untuk kelanjutannya juga akan lebih gampang karena pendidikan lanjutannya juga dalam penerimaannya menggunakan jalur grade , semisal SMU A dengan Akreditasi A akan menerima siswa yang telah lulus dari ujian nasional dari Grade A.
Bicara mengenai persaingan sekolah , sekarang pendidikan hampir tidak ada ubahnya dengan dunia bisnis , jenis sekolah ada yang berstandart internasional , nasional plus , nasional , semakin tinggi standart nya tentunya biaya yang dikeluarkan semakin tinggi karena mutu pendidikannya semakin baik , jadi sekolah sekarang bersaing layaknya dunia bisnis dalam menjaring calon siswa. Melihat fenomena adik-adik sekarang yang mengalami kebingungan dalam mencari sekolah yang tepat bagi mereka karena semua sekolah mengklaim bahwa sekolahnya bagus dengan standart yang tinggi , jadi selain faktor marketing diatas ada juga faktor ikut teman yang sering dijadikan faktor utama dalam pemilihan sekolah , dimana teman , sahabat atau karibnya paling banyak bersekolah kesanalah pilihan sekolahnya di tetapkan.
Bisakah kita mengikuti gaya SMK , yaitu sekolah memengah kejuruan yang menitik beratkan pengajarannya pada satu bidang , lebih keketerampilan yang menunjang kehidupan siswanya kelak.
Detailnya begini , antara SMA yang bersaing agar pesaingan itu tetap sehat dan mengacu kepada minat dan bakat siswa , kenapa SMA sedikit di focuskan dalam mata pelajaran yang di titik beratkan seperti contoh SMA 1 adalah SMA Scient Plus , yaitu SMA yang menitik beratkan calon siswanya yang berbakat scient dan tamatannya akan lebih mengkhusus mendalami scient di Perguruan Tingginya , Kemudian SMA 2 Bahasa Plus , SMA 3 Sosial Plus begitu seterusnya , jadi persaingan atara SMA semakin sehat tetapi tetap mengutamakan minat dan bakat siswa , dan dalam Test Potensi Akademiknya juga disesuaikan dengan hal yang dititik beratkan di SMA tersebut.
Pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara , karena masa depan bangsa akan tercermin dari kualitas generasi yang terbentuk oleh konsep dan sistem pendidikan yang baik dan dilaksanakan dengan baik pula , Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan karakter yang baik bagi seorang individu , seorang yang berkarakter yang baik yang menguasai bidang ilmu tertentu yang mau mengkontribusikan pengetahuannya untuk kepentingan bersama.
Pendidikan Education seharusnya harus di transformasikan menjadi Educare dimana selain membentuk otak kiri dengan baik melalui materi pengajaran , juga harus di barengi dengan pembentukan otak kanan dan hati , agar lengkap inteligensi siswa , seimbang antara inteligensi keilmuan , intelegensi secara emosional , sosial , dan spiritual.
Pendidikan kata orang pandai adalah Slow Movement , But strong Force , sulit mendapatkan hasil instant dalam pendidikan , karena mendidik perlu waktu dan proses yang lama untuk membangun karakter bangsa yang baik dalam diri para generasi penerus kita kelak
Salam


Recent Comments